Define Happiness : Definisi Kebahagiaan

Bocah itu kembali berada di tempat tersebut. Sebuah tempat yang rutin ia datangi ketika pulang ke kampung halamannya. Tempat yang sepi dari manusia tapi ramai dengan kenangan yang sudah mati. Tempat paling berat untuk didatangi pertama kali meskipun akhirnya akan biasa saja, tapi tidak dengan bocah ini. Bocah ini selalu berat untuk melangkah kesini, bocah ini selalu tenang bila berada disini.

“Disini lagi bos? engga cape bicara dengan mereka yang engga bisa balas apa-apa?” Sinner tiba-tiba muncul menganggetkan bocah itu.

“BERISIK !, aku cuma butuh didengarkan bukan dikomentarin” Nada bicara bocah itu tiba-tiba meninggi.

“Sinner kamu bisanya cuma bikin orang marah aja. Sedang ada masalah ya bocah?” Saint datang dan mencoba menenangkan suasana.

“hai Saint. Tidak ko lagi ingin menenangkan hati aja. Lagi mau curhat ke orang yang engga akan menjudge aku”

“oh iya iya, bocah kita duduk di kursi itu yuk. Kita mengobrol sebentar. Sinner kamu ikut juga” Seraya tangan Saint menarik tangan bocah itu.

Kursi tersebut terlihat sudah tua dengan beberapa bagian yang retak. Rusaknya kursi itu menandakan dua hal. Umur kursi yang sudah lama, atau seringnya orang duduk disana untuk sekedar menenangkan hatinya setelah berada di tempat itu. Bocah itu duduk di tengah kursi yang lebih baik kondisinya. Saint dan Sinner hanya berdiri melihat bocah itu yang tiba-tiba menangis. Sinner pun duduk disebelah bocah itu dan memeluknya. Tangisan bocah itu semakin menjadi ketika dipeluk oleh Sinner.

“Aku engga suka sepi, tapi sepi disini menenangkan aku”

Bocah itu mencoba berbicara meskipun lebih terdengar seperti sedang menyanyi seriosa dengan suara yang buruk. Beruntung tidak ada siapa-siapa pada waktu itu di tempat itu. Hanya ada Bocah itu, Saint, Sinner dan juga kenangan-kenangan yang sudah coba ditinggalkan, kenapa mencoba? karena kenangan di tempat itu memang tidak akan pernah hilang. Adanya kenangan itu tertimbun dengan pikiran lainnya yang pada saatnya akan muncul kembali di permukaan.

Saat Bocah itu mulai agak tenang Saint dan Sinner mengajaknya untuk pindah ketempat lain karena tempat itu memang bukan tempat yang cocok untuk berbincang-bincang.

“Bocah, kita pindah ke rumah lama kamu aja yuk, kita ngobrol disana seperti biasanya. like the good old times.” Saint membuka pembicaraan ketika Bocah itu mulai tenang kembali.

“huh? iya Saint sebentar ya aku mau pamit dulu”

Bocah itu kembali ke sebuah tempat dia tadi berada. Disitu tertulis Ifo, Fajar, dan Ridwan.

“Mas Ifo, Mas Fajar, Dek Ridwan. Aku pulang dulu ya, lain kali kita cerita-cerita lagi. Minta doanya ya mas untuk keluarga kedepannya, lagi banyak ditimpa cobaan. Nanti kalau aku ada libur lagi. Aku akan kesini lagi ya”

Sunyi. Meskipun sunyi yang ada. Bocah itu merasa kakak-kakak dan adiknya menjawab pesan pamitnya. Nama Ifo, Fajar, dan Ridwan yang sudah ditidurkan dengan tenang di Pemakaman Kironggo Kabupaten Bondowoso.

Bocah itu kemudian pergi ke arah Utara. Menyusuri jalan di sebelah puskesmas lalu masuk di gang nomor 5 di jalan itu. Satu rumah, dua rumah terlampai. Tepat di depan rumah ke 11 Bocah itu berhenti. Motor diparkirnya di depan rumah  yang rumputnya sudah meninggi hampir setengah tinggi badan manusia dewasa. Duduklah bocah itu memandangi rumah itu dari depan. Air matanya kembali menetes menandakan ada yang diingatnya dari rumah itu.

“Hei bos kangen masa kecil? kangen disuapin lagi? hahahahha” Sinner dan Saint datang disamping bocah itu.

“hahahaha tidak lah bukan disuapinnya yang aku ingat, tapi nyamannya menjadi anak kecil”

“Nyaman gimana bos? Jadi anak kecil kan tidak enak. Banyak aturan yang harus dipatuhi, tidur ga boleh malam-malam. ” 

“Ya nyaman aja. Waktu kita masih kecil kita berani menatap dunia, kita tidak takut kepada dunia kita malah ingin cepat dewasa karena itu. Tapi saat umur kita bertambah, ketakutan dan kekhawatiran kita juga bertambah. Lebih banyak yang harus kita pikirkan.” 

Bocah itu mengatakannya dengan pandangan kosong sambil tetap memandang rumah itu.

“Itu saja bos? kirain ada lagi.”

“Ada lagi. Kalian tahu ga hebatnya anak kecil? Mereka cepat sembuh.”

“Maksudnya cepat sembuh Bocah?” Saint pun juga penasaran dengan pernyataan dari Bocah tersebut.

“Iya saat masih kecil meskipun kita lebih gampang menangis ketika sakit sedikit tapi setelah menangis itu kita akan melanjutkan hidup kita, kita akan lupa tentang sakit yang membuat kita menangis itu tadi. Tidak begitu halnya dengan yang sudah dewasa. Meskipun jarang sakit, tetapi ketika sudah menangis kita sulit menyembuhkannya. Bahkan ada yang berpuluh-puluh tahun tetap tidak sembuh meskipun sudah menemui ahi-ahli seperti psikolog, psikiater, ataupun pekerja sosial. Kita orang dewasa ternyata tidak lebih kuat dari anak kecil.”

Bocah itu berbicara sambil tetap memandang rumah itu. Rumput-rumput dirumah itu melambai-lambai seakan menunjukan gestur setuju dengan pendapat bocah itu.

“Bocah kau sedang tidak bahagia ya?” Saint bertanya kepada Bocah yang sudah terlihat melamun kembali.

“Aku? Aku bahagia Saint. Sangat-Sangat Bahagia. Aku punya keluarga yang berkecukupan, aku bisa bersekolah di universitas yang aku inginkan, aku mempunyai orang yang sayang padaku, aku punya tujuan pulang, aku dilancarkan semua urusannya selama ini. Aku sangat-sangat bahagia. Tapi ada satu hal yang mengganjal Saint….” Bocah itu menelan ludahnya.

“Apa itu Bocah?” Sinner menanyakannya.

“Aku kurang bersyukur, sudah banyak hal yang Tuhan berikan kepada aku, tetapi aku kurang bersyukur. Aku beruntung masih bisa diberi kesempatan. Banyak orang di luar sana yang tidak mendapatkan kesempatan yang sama dengan aku.”

“Jadi sebenarnya kau bahagia atau tidak Bocah?” Saint kembali menanyakan.

“Tergantung dari definisi kebahagiaan menurut kamu apa Saint. Kalau Kamu Saint definisi kebahagiaan menurut kamu apa?”

“Hmm malah balik nanya. Dasar kebiasaan. Menurut aku bahagia itu ketika kita bisa berguna untuk orang lain.”

“Kalau kamu Sinner, definisi kebahagiaan menurut kamu apa?”

“Kalau menurut aku Bos, kebahagiaan itu ketika kita bisa makan banyak tanpa perlu takut membayarnya hahahahhaha” Sinner tertawa histeris.

“Dasar cetek.” Bocah itu mentertawakan Sinner dengan definisinya yang seperti itu.

“Kalau kau sendiri Bocah, definisi kebahagiaan menurut kamu apa?” Sinner dan Saint sama-sama bertanya.

Bocah itu terlihat sedang berpikir serius. Lalu dia menjawab

“hmm apa ini netes di pipi aku bos?” 

“hahahah dasar cengeng kamu Sin. Udah-udah yuk kita pulang. Sudah mulai hujan juga disini. Besok kalian temani aku ke Banyuwangi yaa” Kata bocah itu sembari naik ke motornya.

“tapi bos…….” Sinner menjawab tetapi sudah ditinggal oleh Bocah itu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s